Jumat, 09 Oktober 2009

WISATA SEJARAH DI JEPARA

PERTAPAAN SONDER

Berlokasi di Dukuh Sonder, Desa Tulaan, Kecamatan Keling.
Pada akhir ± abad ke-14 Nyai Langgeng atau sering dikenal dengan Ratu Kalinyamat yang mempunyai kerajaaan kecil di Mantingan, dekat Jepara berkuasa. Pada tahun 1549 suaminya yang bernama Sultan Hadirin dibunuh oleh Arya Penangsang. Untuk membalas dendam, Ratu Kalinyamat topo broto menuntut keadilan. Berkelana (lelono) ke mana-mana, dari beberapa tempat yang sudah disinggahi atau yang cocok yaitu di Dukuh Sonder Desa Tulakan, Keling Kabupaten Jepara. Di tempat itu beliau topo bronto, topo wudo, yaitu meninggalkan pakaian kraton (sebagai orang biasa) sampai dia berhasil hingga bertahun-tahun.
Ratu Kalinyamat yang dilukiskan cantik ini bertapa hanya dengan berbalutkan rambutnya yang panjang. Ia memohon pertolongan dari Tuhan agar bisa melampiaskan dendam kesumatnya terhadap Aryo Penangsang, salah seorang murid kesayangan Sunan Kudus. Dendam ini menggumpal di dada Kalinyamat karena suaminya, telah dibunuh secara keji oleh Aryo Penangsang. Dia sempat bersumpah ”ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun yen durung iso kramas getihe lan kesed jambule Aryo penangsang” (Ia tidak akan menghentikan laku tapanya jika belum bisa keramas rambut dengan darah Aryo Penangsang).
Akhirnya, dendam kesumat Ratu Kalinyamat terbalas sudah. Aryo Penangsang terbunuh dalam satu pertempuran dengan Danang Sutowijo, yang kemudian hari mendirikan Kerajaan Mataram. Pertempuran tersebut berlangsung di dekat sungai Kedung Srengenge, dalam duel sengit tersebut Aryo Penangsang tewas secara tragis dengan usus terburai oleh kerisnya sendiri.
Laku tapa Ratu Kalinyamat dengan sumpahnya itu ditafsirkan oleh masyarakat desa Tulaan sebagai wujud kesetiaan, kecintaan, dan pengabdian sang ratu kepada suaminya. Ia dengan kesadaran dan keiikhlasannya yang tinggi bersedia meninggalkan gemerlapnya kehidupan istana dari sebelumnya dan sampai sekarang dengan pertapa di tempat itu sampai Jambul Uwanen tidak akan lepas dari pertapaannya. Kemudian menjadi sedekah bumi, yang namanya Upacara Jembul desa Tulakan. Sampai terkenal di desa Tulakan, Ratu Kalinyamat bertapa sangat lama sampai-sampai rambutnya dikubur di situ.
Pada masyarakat ada suri tuladan diadakan upacara jembul (sedekah bumi) sebagai tanda syukur setiap tahun, tanda untuk menghormati. Syukuran itu dilakukan sejak dulu secara turun-temurun. Pada setiap malam Jumat Wage dipenuhi peziarah yang datang dari berbagai daerah di sekitar Jepara. Para peziarah kebanyakan kaum perempuan yang ingin cantik alami, seperti Ratu Kalinyamat. Syaratnya, mereka terlebih dahulu harus mandi di sungai kecil yang ada di dekat situs bekas pertapaan, yang kemudian disusul dengan laku tapa atau meditasi selama 40 hari.
Cerita berakhirnya masa pertapaan terus diingat-ingat dan diadakan sedekah bumi yang menjadi kegiatan ritual setiap tahunnya. Sedekah bumi tetap diadakan, kalau keuangan kurang kadang ditunda tahun depannya, tetapi Senin Pahingnya tetap diadakan.
Orang luar yang dimimpini untuk membangun ke tempat itu. Setiap Jum’at Wage ada orang yang berziarah. Di tempat itu, dia berdo’a pada Allah Swt. Do’anya ada yang terkabul, lewat berdo’a di situ kemudian dia dengan sukarela memberi bantuan sampai berjuta untuk membangun tempat itu.
Kegiatan yang dilakukan di tempat itu tidak ada pantanganya. Tidak ada larangan, tetapi untuk menjaga kelestariannya dilarang menebang pohon. Berziarah harus bersuci terlebih dahulu berwudlu). Larangan menebang pohon sejak tahun 1989, sebelumnya banyak ditebangi untuk bangunan kemudian dibuat aturan. Masyarakat mendukung, masyarakat dengan kesadaran, tidak ada balak kalau pohon ditebang.
Menjadi tempat ziarah orang, dari mulut ke mulut, dari seorang perempuan katanya tempat mesum tapi itu sebelumnya tidak ada atau bersih. Ada tata nilai yang tertanan di tempat itu. Uri-uri orang tua, secara otomatis mengingat perjuangan jaman dulu, setiap Jum’at Ludong Tuo. Di samping untuk mempersatukan masyarakat (sedekah bumi) masyarakatnya.
Sedekah bumi berdo’a untuk keselamatan bumi kok dihubungkan dengan petilasan. Cerita datang Nyai Rono di Jum’at Wage (manganan) malam Minggu tahlil, Senin paginya penghormatan, untuk pindahnya ke Senin pahing belum jelas.
Pada acara sedekah berdo’a minta keamanan, Ratu Kalinyamat, Sunan Kalijaga, semua disebut. Kegiatan acara itu Upacara Jembul merupakan hiasan bambu irat-iratan menjadi 3, di atasnya adanya acak (tempat makanan terbuat dari bambu yang satu nasi dan lauk pauk). Makanan itu dari kami tua. Dari uratan jam-jam diurutkan hingga datang satu persatu setelah komplet baru ada upacara.
Pertama ada tayuban dan sebagainya, ada danyang-danyang dan sebagainya, diadakan kesenian, diadakan wiji’an. Para petingginya dibersihkan kakiknya dengan air, selama itu semua petinggi satu persatu agar semua bisa berbuat baik. Setelah itu, mereka mengelilingi (muteri) 4 jembul sebanyak 3 kali tersebut. Dengan itu supaya petinggi mau bermasyarakat. Empat jembul menandakan semacam persembahan yang mewakili empat wilayah dan ada ratusan yang lainnya.
Ada cerita menarik yaitu pembersihan diri, ada masyarakat yang berjumlah ribuan. Kalau tidak diadakan akan rame, ada yang menghubungkan dengan keadaan, kalau diakan biaya sampai Rp 25.000.000,00. Pernah diganti jembul, diganti satu-persatu, tetapi mereka minta kembali ke adat dulu.untuk memanfaatkan acara/kegiatan pemerintah misalnya PBB, 17 Agustus, pokoknya kegiatan dari pemerintah yang disampaikan disitu misal KB, flu burung.
Dengan kegiatan seperti itu, pemanfaatan kegiatan itu bagi desa di sini yaitu sebagai pariwisata, bahkan disebut dapat mengubah lingkungan masyarakat kecamatan Keling kumpul jadi satu.
Masyarakatnya muslim, kegiatan menuju ke syirik seperti joget, miji kali petinggi ikut berputar, dicubit (dijiwit) itu tidak boleh karena yang membersihkan jogetnya. Dulu ada tayuban semalam kemudian diganti wayang untuk mengurangi itu. Masyarakat Islam menyadari tidak ada gejolak, yang tetap diadakan untuk budaya.
Pada kegiatan itu dapat dijadikan sarana jual beli hasil bumi. Hasil-hasil bumi dipusatkan di sini, tetapi baru bersifat perorangan (penduduk dari daerah sendiri). Perolehan inkam dari tahun ke tahun dibawa masyarakat yaitu jutaan misal disebut setiap hari semakin meningkat.
Sekarang untuk kalangan generasi muda. Generasi muda mendukung kegiatan itu terus dilaksanakan karena memelihara (nguri-nguri) para pendahulu kita, yang terdiri atas muspika, bupati, dan wakilnya. Acara dari pagi Jum’at Wage (manganan) kegiatan baku, seperti gerimis di pohon kepercayaan pada pilihan pilkades yaitu adem ayem. Pada pemilihan petinggi amat tenang, adem, tenteram sebagai penanda. (Hasil wawancara di rumah petinggi desa Bapak H. Abdul Aziz kepala desa)


PENDOPO KABUPATEN



Bangunan Pendopo Kabupaten Jepara ini dibangun kurang lebih pada tahun 1750, yaitu pada era pemerintahan Adipati Citro Sumo III, beliau merupakan pimpinan pemerintahan yang ke 23 selama kurun waktu 22 tahun (1730 – 1760), sedangkan ayah RA. Kartini merupakan Bupati ke 31 selama kurun waktu 24 tahun (1881 – 1905).
Pendopo Kabupaten menurut pembagian ruangnya adalah sebagai berikut:
Ruang Peringgitan, Ruang ini dulu untuk menerima/ menjamu tamu terbatas, sampai saat inipun tempat ini masih dipergunakan untuk dhahar prasmanan dan menerima tamu. Namanya rono kaputren (yang ukirannya tembus) atau berlubang dan yang blok ukir namanya rono kaputran. Di sebelah kiri itu dulu adalah ruangan kerja untuk Bapak Sekwilda dan sebelah kanan adalah ruangan kerja Bapak Bupati. Kedua rono/penyekat ini dulu yang membatasi RA Kartini dipingit. Kita masuk ruang keluarga, tempat/ruangan ini dulu dipergunakan untuk berkumpulnya keluarga RA Kartini, sekarang tempat ini dipergunakan untuk menerima tamu terbatas.
Kemudian kita terus masuk ruangan tidur RA Kartini “waktu kecil” (sebelum menginjak dewasa/dengan ayah, garwo padmi dan saudara – saudaranya), ruangan ini yang sekarang untuk ruangan tengah, dulu ada 4 (empat) kamar, yang kelihatan penyekat / batas bekas dinding. Untuk tegelnya yang asli pada tahun 1980 ditumpangi tegel putih. Kemudian kita masuki ruang pingitan, yang berukuran 3 x 4 meter, pengertian dipingit tidak di ruangan ini terus, boleh keluar tapi dengan batasan depan ada rono dan belakang ada tembok yang tinggi, dan pengertian dipingit adalah menunggu lamaran dari pria yang tidak dikenalnya. Di depan ruang pingit ini dulu untuk ruang makan keluarga RA Kartini.
Kemudian kita langsung menuju ruang belakang (serambi belakang pendopo), pada ruangan pintu dan jendelanya masih asli peninggalan dulu, dan ruangan ini dulu RA Kartini bisa mewujudkan salah satu perjuangannya yaitu mendirikan sekolah wanita.
Di belakang kelihatan bangunan memanjang itu adalah dapur umum, yang pada masa RA Kartini bisa dipergunakan untuk memberi pelajaran ketrampilan (memasak). Di depan dapur umum ada dua pohon bunga kantil kegemaran RA Kartini. Bangunan di sebelah Pendopo Kabupaten yang sekarang untuk ruang kerja (Sekretariat Dharma Wanita) dulu adalah untuk pesanggrahan ibu kandung RA Kartini (MA Ngasirah) dan yang sekarang untuk ruang Sekretariat PKK, pada masa RA Kartini dijadikan ruangan untuk membina pengrajin ukir.
Kemudian kelihatan tembok tinggi dan dua pintu (regol) yang dulu dijaga punggawa adalah batas belakang pada saat RA Kartini dipingit. Untuk menjaga keamanan, tembok ini sekarang ditutup.


MUSEUM KARTINI


Museum RA. Kartini terletak di pusat kota atau tepatnya di sebelah utara alun-alun kota Jepara. Museum RA Kartini termasuk jenis museum umum dan sekaligus sebagai Obyek Wisata sejarah yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jepara selaku Dinas Teknis yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah. Museum ini dibuka setiap hari dan sering dikunjungi para wisatawan baik wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus). Museum RA Kartini didirikan pada tanggal 30 Maret 1975 pada masa pemerintahan Bupati Soewarno Djojomardowo, SH, sedangkan peresmiannya dilakukan pada tanggal 21 April 1977 oleh Bupati KDH Tingkat II Jepara, Soedikto, SH.
Tujuan didirikan museum ini adalah untuk mengabadikan jasa-jasa perjuangan RA Kartini dengan cara mendokumentasikan, memamerkan, dan memvisualkan benda-benda bersejarah peninggalan milik kakak kandungnya serta benda warisan budaya lainnya yang banyak ditemukan di daerah Kabupaten Jepara. Gedung museum dibangun di atas areal seluas 5.210 m2 dengan luas bangunan 890 m2 dan terdiri dari tiga buah gedung.
RUANG I
Ruang ini berisi koleksi peninggalan RA Kartini berupa benda-benda dan foto-foto miliknya semasa masih hidup antara lain : (Satu) set meja kursi tamu yang masih asli terbuat dari kayu jati dengan ukiran khas motif Jawa kuno; Lukisan wajah beliau pada saat melangsungkan pernikahannya dengan Bupati Rembang, Raden Mas Adipati Djoyodiningrat pada tanggal 12 Nopember 1903; Foto contoh tulisan dalam bahasa Belanda yang ditujukan kepada sahabatnya di negeri Holland; Foto putera satu-satunya yaitu Raden Mas Singgih yang waktu kecilnya bernama Susalit (Jawa : susah wiwit alit atau dalam bahasa Indonesia susah sejak kecil); Foto ayahandanya, RMAA. Sosroningrat yang pernah menjabat sebagai Bupati Jepara yang waktu itu pusat pemerintahannya berada di Pendopo Kabupaten; Foto ibu kandungnya, MA. Ngasirah yang berasal dari desa Telukawur Jepara; Meja belajar; Piring dan mangkok; Hasil keterampilan tangan muridnya berupa renda; Alat untuk membatik berupa canting milik RA Kartini; Silsilah RA Kartini; Serambi belakang pendopo Kabupaten; Botekan, sebuah tempat untuk menyimpan jamu sebagai persiapan pada saat RA Kartini akan dilahirkan; Mesin jahit kepunyaan muridnya yang sampai sekarang masih dapat dioperasikan.















RUANG II

Di ruang ini kita akan menjumpai benda-benda peninggalan maupun foto- foto dari kakak kandungnya, Drs. RMP. Sosrokartono. Tokoh yang turut berjuang dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia sekaligus sebagai motivator dan pendorong bagi cita-cita mulia RA Kartini, menguasai 26 jenis bahasa dan pandai dalam bidang pengobatan dengan menggunakan “Air Putih” sebagai media perantara. Beliau terkenal dengan sebutan “Joko Pring” atau “Mandor Klungsu” dan orang-orang sering memanggil beliau dengan julukan “Ndoro Sosro”. Selain itu beliau terkenal lewat ilmunya “Catur Murti” yaitu perpaduan antara ucapan, perasaan, pikiran, dan perbuatan. Menurut ajaran ilmu tersebut bilamana orang menguasai dan mampu memadukan keempat unsure di atas niscaya orang itu akan menjadi manusia yang sejati (Jawa : Mumpuni). Beberapa benda peninggalan dan foto-foto yang ada di ruangan ini antara lain: Kursi-kursi untuk antri para pasien yang kondisinya masih asli; kursi sofa untuk istirahat; tempat pengobatan sekaligus tempat pembaringan terakhir pada saat beliau wafat; foto gambar gunung Lawu dan Merapi yang diambil tidak melalui pesawat terbang maupun satelit, namun dari suatu tempat tertentu dengan kekuatan ilmu yang dimilikinya; ruang semedi; meja marmer asli; gambar huruf Alif yang terpasang pada bingkai sebagai tanda untuk mengetahui berhasil atau tidaknya dalam mengobati pasien; dll.

Ruang III


Benda-benda yang ada di ruangan ini meliputi benda-benda purbakala periode abad VII yaitu peninggalan Ratu Shima.
Ratu Shima adalah penguasa kerajaan Kalingga di daerah Keling Kabupaten Jepara dan benda-benda kuno bernilai sejarah yang ditemukan di wilayah Jepara, antara lain:
Foto beberapa barang kerajaan yang terbuat dari emas dan platina, patung arca trimurti dan siwa mahaguru, yoni dan lingga, kepingan mata uang gopeng yang terbuat dari logam, potongan ornament batu berukir yang sekarang ini masih dapat dilihat pada dinding masjid Mantingan Jepara, Seperangkat gamelan kuno, bak mandi dan guci untuk menyimpan air yang terbuat dari tanah liat, beberapa barang keramik yang ditemukan di sekitar perairan Karimunjawa, dll.
Selain benda-benda di atas disajikan pula beberapa contoh barang hasil kerajinan dari Jepara yang terkenal yaitu:
Ukir-ukiran, tenun ikat tradisional dari desa Troso, monel (logam baja putih) yang tidak berkarat atau stenlis steel, keramik, rotan dan anyaman bambu.

Ruang IV


Di ruang ini dapat kita lihat kerangka ikan raksasa “Joko Tuo” yang panjangnya 16 meter dan lebar 2 meter dengan berat 6 ton. Ikan tersebut ditemukan tahun 1989 di Pulau Karimunjawa dalam keadaan mati namun masih ada sisa-sisa dagingnya. Menurut pakar sejarah /arkeologis bahwa ikan ini sebangsa ikan gajah, karena pada bagian kepalanya terdapat semacam gading seperti yang dimiliki hewan gajah serta ada bahasa latin dan spesies khusus untuk hewan tersebut. Namun kebanyakan para pengunjung menyebut ikan itu dengan nama ikan Paus.


BENTENG PORTUGIS

Salah satu obyek wisata andalan di Jepara adalah Benteng Portugis yang terletak di Desa Banyumanis Kecamatan Keling atau 45 km di sebelah utara Kota Jepara, dan untuk mencapainya tersedia sarana jalan aspal dan transportasi regular.

Dilihat dari sisi geografis benteng ini nampak sangat strategis untuk kepentingan militer khususnya zaman dahulu yang kemampuan tembakan meriamnya terbatas 2 s/d 3 km saja. Benteng ini dibangun di ats sebuah bukit batu di pinggir laut dan persis di depannya terhampar Pulau mondoliko, sehingga praktis selat yang ada di depan benteng ini berada di bawah kontrol Meriam Benteng sehingga akan berpengaruh pada pelayaran kapal dari Jepara ke Indonesia bagian timur atau sebaliknyaPada tahun 1619, kota Jayakarta / Sunda Kelapa dimasuki VOC Belanda, dan saat ini Sunda Kelapa yang diubah namanya menjadi Batavia dianggap sebagai awal tumbuhnya penjajahan oleh Imperialis Belanda di Indonesia. Sultan Agung Raja Mataram sudah merasakan adanya bahaya yang mengancam dari situasi jatuh nya kota Jayakarta ke tangan Belanda. Untuk itu Sultan Agung mempersiapkan angkatan perangnya guna mengusir penjajah Belanda.
Tekad Raja Mataram ini dilaksanakan berturut-turut pada tahun 1628 dan tahun 1629 yang berakhir dengan kekalahan di pihak Mataram.
Kejadian ini membuat Sultan Agung berpikir bahwa VOC Belanda hanya bisa dikalahkan lewat serangan darat dan laut secara bersamaan, padahal Mataram tidak memiliki armada laut yang kuat, sehingga perlu adanya bantuan dari pihak ketiga yang juga berseteru dengan VOC yaitu Bangsa Portugis.

Tidak ada komentar: